Minggu, 25 September 2011

habibie & ainun

jikalau di India dahulu kala, shah jahan membangun taj mahal untuk mengenang istrinya mumtaz mahal, maka di Indonesia, ada pak habibie yang meluncurkan sebuah buku untuk mengenang alm istrinya ibu hasri ainun habibie. bukunya berjudul habibie & ainun, tebalnya kurang lebih 300 halaman. jujur aja saya sih sebenernya engga punya buku ini, alias bacanya boleh minjem doank punya temen saya si anti hehe #sambil nyanyi gak gak gak modal ala 7icon.

tapi meskipun minjem tentu tidak mengurangi kekhusyukan saya membaca buku ini secara pak habibie ini idola saya dari kecil. beliau satu2nya pejabat yang menurut saya di jaman itu (orde baru) ngomongnya gak bertele2, hasil kerjanya pun jelas, dia bisa bikin pesawat, dan bukan omong doank. okelah, tanpa berbasa basi ini lah resensi dari buku habibie & ainun yg saya baca, enjoy


resensi ini saya bagi jadi beberapa bagian, tentu saja karena ini blog saya jadi resensinya ya suka suka saya yaa

1. bagian cinta cinta an

di bagian awal buku ini mengupas tentang awal cinta dari habibie dan ainun muda. mereka tidak sengaja bertemu di rumah orang tua ainun setelah bertahun-tahun tidak bertemu, padahal sejak SMP dan SMA mereka satu sekolah. sejak itulah habibie muda mulai menyukai ainun dan melakukan pendekatan. saat itu habibie adalah mahasiswa yang sedang melanjutkan studinya di jerman sedangkan ainun adalah dokter muda yang sedang mengambil spesialisasi di UI. setelah pendekatan beberapa waktu lamanya akhirnya habibie pun melamar ainun dan mereka pun menikah. habibie memboyong ainun ke jerman dan disanalah mereka memulai perjalanan rumah tangga mereka.

 gambar dari sini

menjalani kehidupan rumah tangga di negara lain tentu bukan perkara mudah bagi ainun dan habibie. habibie yang waktu itu masih menjadi mahasiswa dan bekerja sebagai asisten peneliti di Universitas merasa harus menambah penghasilan dengan bekerja di pabrik. pekerjaan ini membuatnya harus bekerja hingga larut malam setelah selesai dengan pekerjaannya di universitas. untuk mengirit pengeluaran beliau bahkan harus berjalan kaki memotong jalan agar tidak perlu naik angkutan umum. karena saking jauhnya beliau berjalan, sepatunya sering sobek dan beliau menyisipkan kertas agar salju tidak menempel di kakinya, sungguh suatu perjuangan yang berat untuk bisa bertahan hidup. namun seletih2nya beliau, begitu sampai di rumah, ada 'senyum indah dan tatapan mata yang menyejukkan dari ibu ainun yang selalu dirindukan oleh pak habibie'.