Selasa, 31 Mei 2011

hati itu cermin, kawan

ngomong serius dikit tentang apa yang terjadi di sekeliling saya, anda, bangsa ini. setelah membaca artikel suami gila di blog ini, saya jadi mengangguk angguk sendiri. inget kalo saya sering banget mikir seperti yang dipikirin sama si suami gila. indikator kegagalan pengajaran pelajaran agama di suatu negara adalah ketika moral tidak lagi menjadi landasan hidup bernegara. artinya implementasi dari ajaran agama itu kurang (kalau tidak boleh dibilang nol besar). hey, bukankah tidak perlu menunggu punya agama dulu untuk bisa menjadi orang baik? saya percaya setiap manusia terlahir dengan dibekali kebaikan murni yang bersumber dari Tuhan. tanpa harus diajarkan, manusia pasti tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. hati nurani akan menjadi penunjuknya. nah, apalagi dengan ditambah adanya agama, seharusnya petunjuk itupun bertambah. ada pedoman hidup yang diajarkan dalam agama sehingga manusia bisa hidup lebih baik.

fenomena yang terjadi sekarang adalah agama hanya menjadi ritual tanpa pemahaman. agama diajarkan hanya sebagai syarat. pendidikan diserahkan sepenuhnya pada sekolah sementara di rumah, orang tua tidak lagi mengajarkan nilai nilai kebaikan, pengalaman hidup mereka kepada anaknya, mereka terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan...ya..urusan mencari uang (materi). akhirnya anak anak karena melihat orang tuanya sperti itu, nantinya mereka akan bersekolah agar masa depan mereka cerah (bukan untuk mencari ilmu). apa yang disebut dengan masa depan cerah yaitu adalah kehidupan yang sukses, banyak uang (materi). saat bekerja si anak akan bersusah payah berusaha untuk mendapatkan uang (materi). seolah olah sedari kecil si anak sudah diajarkan untuk hidup mengejar materi.

padahal esensi dari hidup adalah untuk mencari kebahagiaan. dan kebahagiaan lebih banyak terdapat pada hal hal yang bersifat immaterial. banyak orang yang memiliki materi berlimpah tapi tidak bahagia, bahkan mereka melakukan bunuh diri. meski tidak dipungkiri materi juga penting tapi tentu bukan yang terpenting. anda bisa membeli rumah tapi anda tidak akan pernah bisa membeli kehangatan sebuah keluarga. bahagia itu letaknya di dalam hati. jika anda ingin bahagia anda harus mampu membahagiakan orang lain. bahagia melihat orang lain bahagia. dan nilai nilai ini harusnya diajarkan dalam setiap keluarga. agar setiap orang di keluarga tsb jd orang baik. keluarga yang baik akan membentuk negara yang baik. negara itu kan kumpulan keluarga keluarga.

waktu saya kecil ibu saya mengajarkan kejujuran pada saya. jujur adalah yang utama. kejujuran bukan cuma dalam perkataan tapi juga dalam perbuatan. saya paling tidak bisa berbohong pada ibu. ibu pasti bisa mendeteksi kebohongan dalam kalimat kalimat saya. makanya sejak kecil saya tidak berani berbohong pada ibu saya. semakin saya dewasa semakin saya sadar kalau berbohong itu tidak baik. karena waktu berbohong kita bukan hanya membohongi orang lain tapi juga membohongi diri sendiri. semakin lama dilakukan bisa bisa kita tidak akan mengenali diri kita sendiri. pasti sakit rasanya kalau terus menerus membohongi diri sendiri. apa akan bahagia hidup seperti itu?

saya sering merasa terlalu banyak ketidak jujuran, kemunafikan terjadi di lingkungan tempat saya tinggal. ada orang yang jelas jelas mengambil hak orang lain..tapi keliatannya dia bahagia, kaya, hidupnya enak dan (herannya) religius. orang tsb rajin beribadah padahal jelas jelas kelakuannya sering mendzolimi orang lain. ada orang yang keliatannya tidak religius, jarang beribadah tapi moralnya baik. kadang saya bingung jadi harus bagaimana ya bersikap. saya kadang heran dengan orang yang beribadah dengan baik tapi melakukan hal hal yang dilarang dalam agamanya. mungkin mereka berpendapat beribadah merupakan urusan manusia dengan Tuhan jadi harus baik. sedangkan urusan keduniawian adalah urusan manusia dengan manusia jadi tidak apa apa kalau tidak baik. begitu ya?bingung saya.

apalagi liat yang di tivi tivi itu haduhhh bingung tidak tahu mana yang benar dan yang salah. pihak pihak yang kelihatannya hobi sekali bersengketa. dan kedua pihak tampak benar semua. mereka yakin kalau merekalah yang benar tanpa mau mengalah. kalau sudah begini saya pasrah saja pada Allah. mungkin semua ini keliatan membingungkan bagi saya dari bawah sini tapi terlihat mudah untukNya dari atas sana. bukankah Ia Maha tahu segalanya? bagi saya pribadi, menjalankan ajaran agama itu keharusan karena itu adalah perwujudan ketaatan manusia pada Allah SWT, kebutuhan manusia untuk mengabdi pada Tuhan yang telah menciptakannya. namun berbuat baik sesuai hati nurani itu juga keharusan karena hati adalah penunjuk jalan kemana kita harus melangkah. berbuat saja menurut hati sesuai dengan ajaran agama, itu saja lah..sederhana

bukankah hati itu seperti cermin? jika ingin berhati jernih rajin rajinlah membersihkannya dari kotoran kotoran hati.

happy holiday everyone...and welcome lampung oki ^^v nice to see you here

3 komentar:

Lia mengatakan...

aku udah baca tuh link-nya. keknya ada yang perlu dikoreksi dikit PLTG (tenaga gas), PLTP (tenaga panas bumi alias geothermal)
he3! gak penting ya..

gak ada yang bisa dipersalahkan dgn kondisi spt ini. lingkungan, cara ajar, kebiasaan, dan yang lainnya gak bisa disalahkan. balik aja ke pribadi masing2, punya kesadaran gak?, punya prinsip hidup gak?

ikan laut gak ikut asin meskipun dia hidup di air asin
ikan salmon tetep bisa berenang ke arah hulu meskipun arah air selalu ke hilir

well then, ini urusan masing2 pribadi dengan Tuhan.

aditya mengatakan...

iya tapi maksudku sebagai input an kita kalau nanti udah punya anak kan lia..dimulai dari diri sendiri dan dari hal terkecil dulu
dari keluarga kita dulu kan

Lia mengatakan...

betul bu,,
duh jadi pengen punya anak neeh