Rabu, 22 Februari 2012

morning story



“panjang!..panjang!!”

teriakan kondektur bus itu menghentikan percakapan kami, saya dan dua orang teman sekantor  yang pagi itu ketinggalan bus jemputan sehingga dengan terpaksa harus naik angkutan umum untuk bisa sampai ke kantor. Kami pun akhirnya memutuskan untuk naik bus itu.

Baru saja kaki kiri melangkah masuk ke dalam bus, bapak supir sudah menginjak gas  untuk menjalankan bus, untung tangan sudah kokoh berpegangan kalau tidak mungkin saya akan jatuh terdorong ke lantai bus, fiuhh. sejurus kemudian, mas2 kondektur mengarahkan saya ke kursi  yang kosong. Kursi itu deretan ke tiga dari depan, di sebelah saya sudah duduk seorang pelajar perempuan. Di depan, bapak supir terlihat santai menjalankan bus dengan kecepatan sekitar 40 km/jam sambil merokok, lumayan pelan jalannya bus ini, mungkin sedang mencari tambahan penumpang.

Bus ini dari luar berwarna oranye, trayeknya terminal rajabasa-terminal panjang, kondisinya mengenaskan, selain eksteriornya yang kurang sedap dipandang (sudah banyak besi-besi yang mengelupas) , interiornya tak kalah parahny, debu dimana-mana pleus karat yang menempel di besi-besi kursi, jendela dan pegangan tangga. Dalam setengah jam perjalanan saja telapak tangan saya yang berpegangan ke kursi depan, sudah berubah warna menjadi kuning, bekas karat yang menempel. Tapi bapak supir nampaknya berusaha menjadikan bus itu bernuansa romantis dengan menambahkan korden berwarna hijau tosca di depan bus dan beberapa tangkai bunga plastik berwarna pink di sudut sudut jendela depan bus. aksesoris yang nampak kurang serasi dipadukan dengan kondisi bus yang kurang terawat.

Bus berjalan terhuyung huyung, membuat para penumpang bergoyang ke kiri dan ke kanan terkadang harus terlompat dari kursi karena mengikuti gerakan bus. jalan yang tidak rata bahkan berlubang di sana sini membuat bus dan truk serta kendaraan lain yang melintasi jalan itu harus berjalan pelan-pelan dan menghindari lubang. Tidak heran bus-bus ini kondisinya sangat parah karena tiap hari harus melewati medan seberat ini.


Jalan ini bukan jalan kota, melainkan jalan alternatif untuk kendaraan-kendaraan macam bus atau truk yang trayeknya antar kota antar propinsi. Kasihan kalau melihat motor atau mobil yang melewati jalan ini. Seperti juga kondisi bus, kondisi jalan ini tidak kalah mengenaskannya. Kalau musim kemarau, kotor, berdebu dan panas, sedang kalau musim hujan akan banjir akibat sanitasi yang tidak lancar, tersumbat karena banyaknya sampah di saluran air. Ada hal yang membuat saya heran, di pinggir-pinggir jalan ini banyak rumah makan, eh bukan hanya rumah makan yang besar dengan tempat parkir yang luas, tapi juga warung-warung kecil yang benar-benar ada di pinggir jalan yang berdebu dan kotor itu. Sejenak saya membayangkan masakan yang ditata di piring-piring itu entah sudah dihinggapi berapa juta lalat dan sudah berapa banyak debu yang menempel disitu. Memang di jalan ini banyak dilewati truk yang melintas sehingga pasti banyak juga sopir truk yang  akan mampir untuk istirahat dan makan di warung-warung itu. Sungguh kasihan mereka, tidak punya pilihan untuk mendapatkan makanan yang bersih di daerah ini.

Kembali ke situasi dalam bus, sepanjang mata memandang, rata-rata penumpang bus ini adalah pelajar dan PNS, mereka tentunya sedang perjalanan menuju sekolah dan kantor mereka. Para pelajar  turun serentak di depan sekolah mereka, begitu juga dengan pelajar yang duduk di sebelah saya. Kemudian saya bergeser ke tempat duduk yang dekat dengan jendela, membuka jendela tersebut karena tidak tahan dengan asap rokok dari bapak supir. Kursi di sebelah saya kemudian diduduki oleh bapak-bapak. Alhamdulillah, saya bersyukur bapak-bapak itu tidak merokok, saya jadi agak menikmati perjalanan naik bus ini meskipun bus masih bergoyang-goyang jalannya melewati jalan berlubang.

Sebenarnya pemandangan di sepanjang jalan ini bagus loh, sangat bagus malahan. Dari arah kalibalok dimana saya naik bus tadi, jalan yang ditempuh akan menanjak di sebuah bukit. Dari atas puncak bukit tersebut, akan terlihat pemandangan kota lampung dan pantainya yang indah. Kemudian ke depannya lagi, ada bukit yang lumayan tinggi, yang kalau habis hujan, ada air terjun nampak dari celah-celah tebing. Sungguh pemandangan alam yang bisa dinikmati secara gratis hanya dengan melewati jalan ini. Sayangnya, semua pemandangan indah tersebut menjadi tidak ada artinya tertutupi oleh kenyataan kondisi jalan yang tidak layak sama sekali untuk dilewati. Saya menduga semua orang yang melintasi jalan itu bukannya terkesima melihat pemandangan tapi justru sibuk mengumpat kondisi jalan itu. Termasuk juga saya, ingin rasanya segera sampai ke tujuan tanpa melewati jalan ini.

Oya, jalan itu bernama jalan lintas sumatera, pintu gerbang masuk ke pulau sumatera, pulau terbesar ke 3 di Indonesia, ironis bukan..

5 komentar:

Mrs. Nuki mengatakan...

Ironisss...banget, banget, banget:(

Dan, aku adalah salah satu warga Lampung yang sering melewati jalan lintas Sumatera ini, yang selalu sulit menikmati indahnya pemandangan sebagaimana yang Mba ceritakan, justru malah terjebak dalam keluhan:(

Adang Muhammad mengatakan...

sayasng sekali dong mba,,, padahal alam sudah sedemikian memberikan keindahan...

semoga segera diperbaiki dengan begitu keindahan disana kana dapat dinikmati...

kunjungan pertama
salam kenal dan follow balik juga
Revolusi Galau

aditya wulandari mengatakan...

@mrs nuki : iya, sejak pertama kali aq pindah kesini taun 2008 sampai sekarang kondisinya masih sama malah lebih parah aja perasaan..huuuft

@adang muhammad : iya memang sangat amat disayangkan, makasih ya atas kunjungannya insyaallah nnti di follow balik :)

EnNO mengatakan...

Blom pernah melalui jalan lintas Sumatra. Semoga kapan-kapan bisa kesana.... Amin

aditya wulandari mengatakan...

@enno : aminn..main-mainlah ke lampung sama fira..disini banyak pantai jugak looohh